PENGELUARAN KONSUMSI MASYARAKAT DAN PEMERINTAH

NAMA : KARIMA AFIFAH
NPM : 23210833
KELAS : 1EB15

I. PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG STUDY
Ekonomi pertumbuhan dan perubahan struktur ekonomi dalam 30 tahun terakhir atau lebih di Indonesia telah menghasilkan pertumbuhan dan perubahan ring Ekonomi Ekonomi PADA years-Terakhir 30 years lebih atau di Indonesia telah menghasilkan
skala besar urbanisasi. timing Besar urbanisasi. Ini urbanisasi skala besar tidak hanya terjadi di Indonesia, itu merupakan fenomena global, dan Ini timing Besar Yang urbanisasi regular tidak Hanya terjadi di Indonesia, merupakan fenomena global ITU, dan
sebagai pembangunan ekonomi atau pertumbuhan terus berlanjut, masyarakat di daerah pedesaan akan terus datang ke daerah-daerah perkotaan atau kota-kota besar. Pembangunan Ekonomi sebagai pertumbuhan berlanjut Terus atau, Masyarakat Pedesaan di Daerah akan Terus Datang Besar perkotaan atau Daerah-Daerah ke kota-kota. Jadi, Jadi,
pertumbuhan ekonomi, perubahan struktural dan globalisasi semakin terkait dengan proses urbanisasi atau pertumbuhan perkotaan Ekonomi ekspansi, dan perubahan struktural globalisasi semakin Berlangganan Artikel Baru proses urbanisasi atau ekspansi perkotaan
dan orang-orang migrasi dari desa ke kota, dan lebih banyak orang akan hidup di pemukiman perkotaan daripada di wilayah pedesaan. dan Orang-Orang migrasi Dari desa ke kota, lebih BANYAK dan Orang akan Hidup di pemukiman perkotaan small di Wilayah Pedesaan.
kota Metropolitan seperti Jakarta dapat menawarkan iming-iming pekerjaan yang lebih baik, pendidikan, perawatan kesehatan, dan mereka berkontribusi kota Metropolitan Jakarta Pembongkaran pekerjaan dapat menawarkan iming-iming Yang lebih Baik, Pendidikan, Kesehatan perawatan, dan mereka berkontribusi
proporsional terhadap perekonomian negara. proporsional untuk perekonomian Negara. Namun, perluasan kota yang cepat sering dikaitkan dengan kemiskinan, bersih Namun, perluasan kota Yang Cepat KEMISKINAN DI KABUPATEN KUTAI dikaitkan Artikel Baru Sering, bersih
pasokan air dan masalah perumahan, degradasi lingkungan, kriminalitas, kumuh perkotaan, dll tempat ini pasokan udara sosial dan manusia dan Masalah perkantoran, Lingkungan degradasi, kriminalitas, perkotaan kumuh, Tempat Suami Manusia dan sosial dll
pengembangan dan bahkan keberlanjutan pembangunan ekonomi di daerah perkotaan beresiko. pengembangan dan bahkan keberlanjutan Pembangunan Ekonomi di Daerah beresiko perkotaan.

Pengeluaran konsumsi masyarakat

Pengeluaran Konsumsi masyarakat merupakan salah satu variabel makroekonomi dalam identitas pendapatan nasional menurut pendekatan pengeluaran, variabel ini lazim dilambangkan dengan dengan hurup C (Consumption). Pengeluran konsumsi seseorang adalah bagian dari pendapatannya yang dibelanjakan. Bagian dari pendapatan yang tidak dibelanjakan disebut tabungan lazim dilambangkan dengan hurup S (Saving). Apabila pengeluaran-pengeluaran konsumsi semua orang dalam suatu negara dijumlahkan, maka hasilnya adalah pengeluaran konsumsi masyarakat negara yang bersangkutan. Dilain pihak jika tabungan semua orang dalam suatu negara dijumlahkan hasilnya adalah tabungan masyarakat negara tersebut. Selanjutnya, tabungan masyarakat bersama-sama dengan tabungan pemerintah membentuk tabungan nasional. Dan tabungan nasional merupakan sumber dana investasi.
Konsumsi seseorang berbanding lurus dengan pendapatannya. Secara makroagregat pengeluaran konsumsi masyarakat berbanding lurus dengan pendapatan nasional. Semakin besar pendapatan, makin besar pula pengeluaran konsumsi. Perilaku tabungan juga begitu. Jadi bila pendapatan bertambah, baik konsumsi maupun tabungan akan sama-sama bertambah. Perbandingan besarnya tambahan pengeluaran konsumsi terhadap tambahan pendapatan disebut hasrat marjinal untuk berkonsumsi (Marginal Propensity to Consume, MPC). Sedangkan nisbah besarnya tambahan pengeluaran konsumsi terhadap tambahan pendapatan disebut hasrat marjinal untuk menabung (Marginal Propensity to Save, MPS). Pada masyarakat yang kehidupan ekonominya relatif belum mapan, biasanya angka MPC mereka relatif besar, sementara angka MPS mereka relatif kecil. Artinya jika mereka memperoleh tambahan pendapatan maka sebagian besar tambahan pendapatannya itu akan teralokasikan untuk konsumsi. Hal sebaliknya berlaku pada masyarakat yang kehidupan ekonominya sudah relatif lebih mapan.
Perbedaan antara masyarakat yang sudah mapan dan yang belum mapan antara negara maju dan negara berkembang bukan hanya terletak dalam atau dicerminkan oleh perbandingan relatif besar kecilnya MPC dan MPS, akan tetapi juga dalam pola konsumsi itu sendiri. Pola konsumsi masyarakat yang belum mapan biasanya lebih didominasi oleh konsumsi kebutuhan-kebutuhan pokok atau primer. Sedangkan pengeluaran konsumsi masyarakat yang sudah mapan cenderung lebih banyak teralokasikan ke kebutuhan sekunder atau bahkan tersier.

Pengeluaran pemerintah
Pengeluaran pemerintah Indonesia secara garis besar dikelompokkan atas pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Pengeluaran rutin pada dasarnya berunsurkan pos-pos pengeluaran lancar dan pos pengeluaran kapital. Pengeluaran rutin pada dasarnya di keluarkan untuk membiayai pelaksanaan roda pemerintahan sehari-hari , meliputi belanja pegawai; belanja barang; berbagai macam subsidi (subsidi daerah dan subsidi harga barang); angsuran dan bunga utang pemerintah; serta pengeluaran lainnya. Sedangkan pengekuaran pembangunan adalah pengeluaran yang sifatnya menambah modal masyarakat dalam bentuk prasarana fisik, yang dibedakan lagi menjadi pengeluaran pembangunan yang dibiayai dengan dana rupiah dan bantuan proyek.

Selama pelita I pengeluaran pemerintah berjumlah Rp.3,238,1 miliar, sekitar 62% diantaranya berupa pengeluaran rutin. Jumlah pengeluaran selama pelita II meningkat empat setengah kali lipat (456%) menjadi Rp.17.997,5 miliar.Proposi pengeluaran pembangunan lebih besar dibanding peneluaran rutin, yakni 50,78% berbanding 49,22%. Pada pelita III kenaikan jumlah total pengeluaran tidak sebesar sebelumnya, hanya naik 269%. Selama pelita IV dan V kenaikan jumlah pengeluaran rutinnya lebih besar dan naik 111%. Dengan demikian, pengeluaran rutin lebih besar dari pengeluaran pembangunan dalam pelita I, IV dan V. Hanya pelita II dan III porsi pengeluaran pembangunan lebih besar daripada pengeluaran rutin.
Pengeluaran pemerintah untuk pendidikan dan kesehatan adalah yang terpenting. Karena kedua factor ini sangat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan- kegiatan yang produktif dan penyebab utama kemiskinan di Indonesia adalah karena kebanyakan anggota masyaraakat yang berpendidikan rendah dan dengan kondisi kesehtan yang buruk. Dua table ini memperlihatkan besarnya pengeluaran pemerintah Indonesia untuk kedua sector tersebut relative di bandingkan dengan Negara asia.

Sumber : PEREKONOMIAN INDONESIA TULUS TAMBUNAN
PEREKONOMIAN INDONESIA DUMAIRY
WWW.TABIIN.OFEES.NET.COM

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Satu Balasan ke PENGELUARAN KONSUMSI MASYARAKAT DAN PEMERINTAH

  1. agrma berkata:

    makasi ya……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s